FF “Father (Leeteuk version)”

Title: Father (Leeteuk version)

Genre: Sad, Family, other

Cast: Park Jungsoo and family

Author: Riska Indah Damayanti a.k.a Han Hyesoo a.k.a Kyupil

Note: hhh~ Jadi FF ini campuran fiction sama kenyataan ya? Tapi sebenernya, ceritanya ga gini gini amat. Yah author tau sedikit terus author tambah tambahin. Kan buy 1 get 1 #abaikan. Inget ini just Fan Fiction. Ok this is my FF, happy reading^^

 

Summary: Andai aku dapat merasakan apa yang semua orang rasakan dengan appa nya. Bahkan seseorang yang kupanggil appa itu tak menghiraukan panggilanku.

 

Jungsoo POV

 

 

Hari ini aku menemani Donghae ke makam ayahnya, aku melihat wajah harunya. Ia membawa beberapa barang dari dorm. Album terbaru kami bahkan penghargaan yang kami terima.

 

“appa, aku pulang~ lihatlah prestasi anakmu ini. Aku mewujudkan impianmu. Lihatlah, aku meraih banyak penghargaan” Donghae terus berbicara didepan makam sambil berlinang air mata. Aku menepuk bahunya mencoba membuatnya tegar.

 

Donghae-ya~ seperti apa ayahmu? Apa dia begitu menyayangimu? Dia pasti ayah yang selalu menyayangimu. Dia pasti sangat penting bagimu, karena kau juga penting baginya.

 

 

_Flashback_

 

 

“aku pulang~”

 

“ssttt!! Kemarilah!”

 

Tiba tiba Inyoung nuna menarikku kekamarnya yang terletak dekat pintu masuk.

 

“ige, dengarkan ini. Ini sangat bagus!”

 

kini dua pasang earphone telah terpasang di kedua telingaku dengan volume yang tak bisa dikatakan pelan. Aku menatap wajah nuna heran, sedangkan yang ditatap hanya memalingkan muka menghadap pintu. Wajahnya cemas

 

“nuna~” aku memanggilnya, dan ia menoleh. Ah, earphone ini mengganggu! Tanganku mulai meraih earphone yang hinggap dikepalaku. Namun, tangan nuna lebih dahulu mendarat disana bahkan menekannya hingga benar benar erat dikepalaku.

 

“nuna~” dia menangis, aishhh ada apa ini?

 

“mworago?”

 

“…” nuna tak menjawabku, dia hanya menggeleng gelengkan kepalanya sambil menahan isak tangisnya

 

 

 

———-

 

 

 

 

“aku pulang” lagi lagi nuna menarikku kekamarnya dan menjejalkan telingaku dengan earphone nya.

 

“aish!” aku melepaskannya keras sambil menepis tangan nuna

 

“PLAKK!” bukan, bukan aku yang terkena tamparan ini. Suara ini dari luar kamar nuna

 

“yak! Apa pedulimu hah? Bukankah kau lebih peduli dengan wanita itu?! Tiap malam kau pulang dengan keadaan mabuk! Dan kau selalu memukuliku! Hutangmu pun merajalela! Setiap hari pasti ada rentenir datang! Apa kau peduli?! HAH?!” itu suara eomma.

 

Aku berlari kecil dan membuka pintu yang langsung mnghadapkanku pada sebuah pemandangan yang begitu menyakitkan hati.

 

“SEKARANG KAU BERANI MENENTANGKU HAH?!”

 

“PLAKK!!” lagi, tangan kekar itu menghantam wajah wanita dihadapannya

 

“APPA!! ANDWAE!! Jangan sakiti eomma!” aku berdiri menghadap appa yang lebih besar dari aku. Biarlah, yang penting badan kecil ini dapat melindungi eomma. Kini mata appa menatapku penuh emosi dan benar saja, aku mendapat pukulan keras darinya. Dan sekarang ia pergi keluar, entah kemana.

 

 

 

 

————-

 

 

 

Kelas gaduh sekali, tidak seperti biasanya aku tak ikut bermain bersama mereka. Aku memilih duduk berdiam diri dipojok kelas. Terbayang kejadian semalam, jadi nuna selama ini sudah tau semua tapi tak memberitahuku? Aku tau niatnya baik, tapi haruskah aku berdiam diri melihat siksaan yang eomma dapatkan?

 

“hei! Jungsoo-ya! Sedang apa kau disana? Apa kau belajar jadi pecundang hah? Haha”

 

aish, itu pasti suara Jihyun, murid paling nakal dikelas ini.

 

“pluk” gumpalan kertas mendarat dikepalaku. Aku pun bangkit dengan geram

 

“lihat itu, Jungsoo dapat pukulan dari appanya. Belakangan ini rumahnya gaduh sekali. Sepertinya mereka sedang berperang! Hahaha”

 

“jihyun-ah! diam kau!” aku berlari kearahnya dan bersiap mengepalkan tanganku

 

“kau berani apa hah?”

 

‘Tidak, Jungsoo-ya~ redam amarahmu. Pukulan tak menyelesaikan semua’ batinku. Aku pun berlari keluar kelas. Dan masih dapat kudengar mereka masih mengejekku. Mereka tak tau apa yang kurasakan. Aish, apa ini? Hhh~ aku menangis.

 

“Jungsoo-ya~ gwaenchana?”

 

“ah, Kim sonsaengnim! Kau mengagetkanku. Aku.. aku baik baik saja”

 

 

 

——-

 

 

 

 

 

Aku sengaja pulang agak larut, aku tak mau melihat namja kasar itu memukul eomma ku lagi. Dari ujung jalan, rumahku sudah terlihat. Sepertinya tak ada kegaduhan lagi. Aku berlari kecil melewati pagar rumahku

 

“nuna, gwaenchana?”

kenapa nuna ada diluar? Dia? Menangis lagi? Aigo~

 

“nuna~” panggilanku membuatnya menoleh kearahku

 

“ommo! Kau kenapa?” aku meraih cetakan tangan dipipinya. Sangat merah bahkan memar. Sama seperti yang ada dimataku. Apa lelaki itu senang dengan tanda ini hah?

 

“appa? Kemana dia?”

 

“…” lagi lagi nuna hanya menggelengkan kepalanya

 

“eomma?”

 

“…”

 

dasar pengecut! Tak ada eomma, amarahnya dilampiaskan pada nuna! Apa dia seorang laki laki eoh?!

 

 

———

 

 

 

 

Seperti biasa aku berjalan gontai menatap rumah yang ada dihadapanku. Rumah yang menampung keluargaku bertahun tahun.

 

“cklek!” aku membuka pintu pelan. Kemudian perlahan memasuki ruang tamu. Tiba tiba sebuah tangan menyeretku dan menghempaskan diriku kelantai

 

“apa yang kau katakan pada Kim sonsaengnim hah?!”

mwo? K-kim sonsaengnim. Oh tidak! Jangan katakan bahwa ia datang kemari dan menceritakan semuanya

 

“a-a-akuu”

 

“PLAKK!!” sebuah tamparan memotong perkataanku.

 

“JANGAN SENTUH ANAKKU!!” eomma menyeret badanku kepelukannya

 

“TANDA TANGANI INI!! Aku MUAK bersamamu!!” eomma menyerahkan sebuah surat. Sepertinya surat cerai.

 

 

 

 

————–

 

 

 

 

Tak butuh waktu lama, kini eomma resmi sendiri. Tanpa seorang pria yang dapat menopang hidupnya. Tidak, memang pria itu tak pernah peduli pada eommaku!

“eomma~” aku menatapnya iba

 

“eomma baik baik saja sayang..” tangannya mengelus lembut puncak kepalaku

 

“aku berjanji, aku kan menjadi pria kuat yang tak akan menyakiti wanita. Aku berjanji, aku akan melindungi eomma dan nuna sebagai pria sejati”

 

“ne, aku percaya padamu, Jungsoo” kini eomma dan nuna menggandeng tanganku. Berjalan meninggalkan pengadilan, tempat berakhirnya penderitaan kami. Kami sepakat pindah ke Seoul dan menetap disana. Menyongsong kehidupan yang lebih baik.

 

 

 

_Flashback END_

 

——–

 

 

 

 

 

“kyaaaaaa!!!! Leeteuk oppa!!!” sekumpulan yeoja berkumpul mengelilingiku. Aku menandatangani helaian helaian kertas putih itu dengan pena hitamku.

 

“gomawo” ujar mereka dan hanya kubalas dengan senyuman. Begitu indahnya menyayangi orang. Tapi mengapa lelaki itu suka menyiksa orang? Huh, aku tak peduli lagi. Lagipula ia pun tak mempedulikanku.

 

“Jungsoo~ ah, aniya! Leeteuk~ kau sekarang benar benar pria sejati eomma” seseorang paruh baya berdiri dihadapanku. Mengelus ujung kepalaku, kini aku lebih tinggi darinya. Senyum keriput itu mengembang indah diwajahku

 

“tak peduli Jungsoo atau Leeteuk, aku hanya milik eomma dan nuna” ujarku seraya berhambur kepelukan hangatnya. Donghae-ya~ aku iri padamu, namun nasib kita berbeda. Kau tumbuh menjadi anak yang baik berkat appamu. Sedangkan aku tak sedikit pun merasakn indahnya kasih sayang seorang appa. Dia? Aku tak menganggapnya appa. Bahkan ia tak menginginkanku. Cukup hanya eomma dan nuna, aku adalah pria yang menopang hidup mereka. Aku adalah appaku.

 

 

END

 

Bingung ga? Authornya masa bingung dah ahaha. Apalagi endingnya. Aduh sumpah amburadul banget ini FF. ahaha janji deh nanti pas Donghae version nya jadinya ga seamburadul ini. Soalnya yaduh author tuh udah sedarah daging sama Donghae, jadi semoga ada feelnya. RCL ya? Minimal like buat rating ^^ Gamsahae.

4 thoughts on “FF “Father (Leeteuk version)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s