FF YeWook //GIRAFFE & RYEOWOOK// Brothership

Tittle: Giraffe & Ryeowook

Genre: Brothership

Length: One shot

Cast: Kim Jongwoon & Kim Ryeowook

Author: Riska Indah Damayanti a.k.a HanHyeSoo a.k.a gymgyu a.k.a kyupil

 

 

—-

 

Langkah kecil seorang bocah membelah kesunyian malam. Hentakan telapak kaki yang beradu dengan genangan air pun menimbulkan bunyi gemercik air. Nafasnya tersengal-sengal seiring derap langkahnya melewati deretan gang kecil.

 

Tangannya memeluk erat plastik berwarna hitam. Membawa jerih payahnya seharian yang beradu dengan teriknya pancaran sang surya.

 

Kaki kecilnya berhenti melangkah di depan gubuk reot. Ia mengulum senyum manis di wajah lusuhnya. Tak ingin menyia-nyiakan waktu, ia pun melanjutkan langkahnya memasuki gubuk dari bilik beratapkan tumpukan daun nyiur itu.

 

“Hyung!” seorang bocah yang lebih kecil tengah bangkit dari posisinya yang meringkuk menahan lapar.

 

“Wookie~ Lihatlah! Hyung membawa makanan!” ujar sang ‘Hyung’ sembari menjinjing kantung plastiknya. Dengan kecepatan kilat, namja yang lebih besar itu mendudukan diri di depan adiknya. Mengambil sebungkus nasi yang ia peroleh sebagai buah imbalan jerih payahnya menjual suaranya pada setiap orang di balik kaca mobil.

 

Bunyi kelaparan pun terdengar nyaring dari perut mereka berdua, disusul gelak tawa dari mulut mungil keduanya. Sang kakak pun mulai melahap nasi putih dihadapannya, sedangkan sang adik mengikuti jejaknya.

 

 

 

 

 

 

 

Kim Ryeowook dan Kim Jongwoon, dua kakak beradik yang ditelantarkan oleh orang tuanya. Entah apa yang membuat kedua orang tua bejat itu membuang mereka berdua, yang jelas sekarang kedua bocah itu amat sangat memprihatinkan.

 

Pagi itu, matahari bersinar terik. Namun tak berarti suasana hati Ryeowook seriang matahari. Bibirnya mengerucut sembari melipat kedua tangannya di depan dada, badannya membelakangi sang kakak yang tampak bingung akan kelakuan adiknya.

 

“Bukan karena Hyung pelit. Tapi karena Hyung tak bisa membiarkanmu ikut bersamaku. Hyung  takut kau sakit. Pekerjaan Hyung tidak enak, Wookie” Jongwoon berusaha merayu adiknya.

 

“Ish! Sekali saja, Hyung!! Kau ini tega sekali! Aku kan tak pernah ikut denganmu. Aku hanya menekuk lutut seharian dan menunggumu pulang. Kau kira itu menyenangkan?” Ryeowook tetap dalam keinginannya.

 

“Shhhh~ baiklah” Jongwoon memutar bola matanya dan mulai melangkahkan kaki mendahului Ryeowook.Sementara orang yang di belakangnya tampak kegirangan dan tersenyum puas. Akhirnya perdebatan ini dimenangkan olehnya.

 

 

 

 

 

 

“Arrgghh!!!” erang Jongwoon sembari mengacak-acak rambutnya. Ia terpisah dengan Ryeowook di tengah pasar. Ia sudah menduga semua akan menjadi kacau seperti ini. Setelah berlari kesana kemari, akhirnya bocah sipit itu menemukan adik kecilnya.

 

“Kim Ryeowook!” panggilnya. Namun yang dipanggil tak merespon. Hanya menatap penuh harap pada toko mainan di hadapannya. “Kim Ryeowook!!!” Jongwoon masih menyerukan nama bocah itu, namun lagi lagi ia tetap tak bergeming. Hingga akhirnya Jongwoon berlari menghampiri namja berbadan kurus itu.

 

“Ah, Hyung~ kau kemana saja?” ujarnya polos

 

“Mwoya?! Kau bilang apa?! Ish! Kauini! Kau yang kemana saja?! Babo!” Jongwoon naik pitam dan menjitak adiknya.

 

“Mengapa kau menjitak kepalaku?!” Ryeowook mengusap kepalanya dan memasang wajah kesal dan kesakitan.Tanpa disadari, cairan kental berwarna merah sukses mengalir dari hidungnya.

 

“Wookie!! Ah, mianhe! Yaampun.. H-hyung tak bermaksud..” Jongwoon gelagapan dan menyeret adiknya menuju tepi jalan dan mendudukanya di emperan toko. Ia berlari dan membeli satu pack tisu yang dijual tak jauh dari situ.

 

Tak lama kemudian, ia kembali dan mengelap cairan yang meluber dari hidung Ryeowook. Jongwoon panik bukan main. Namun, yang dikhawatirkan malah tertawa. Padahal cairan merah itu masih keluar dari hidungnya.

 

“Yak!Apa yang kau tertawakan?!” Jongwoon masih meninggikan nada bicaranya. Namun tak membuat tawa Ryeowook menciut. “Jangan terlalu banyak tertawa, anak bodoh! Biarkan darahmu berhenti keluar dulu!” Jongwoon nampak menahan amarahnya. Tangannya masih sibuk mengusap hidung Ryeowook dan membersihkan darah di sana.

 

“Hyung” panggil Ryeowook lirih.

 

“Hm?” Jongwoon masih sibuk dengan kegiatannya.

 

“Aku mau itu~” tangan kecil Ryeowook menunjuk ke arah boneka jerapah dengan ukuran yang tak jauh berbeda dengan dirinya di etalase toko di belakangnya. Mata Jongwoon mengikuti arah telunjuk Ryeowook.

 

“Wookie~ Hyung tidak punya uang.” ujar Jongwoon lirih.

 

“Tidak peduli! Ryeowook mau itu!” Ryeowook tetap keras kepala.

 

“KAU INI!! KAU HARUS MENDENGARKAN KATA HYUNG!!” Jongwoon melempar tisu yang ia genggam. Wajahnya merah padam. Ia benar-benar kesal pada Ryeowook. Sementara Ryeowook hanya menggigit bibir bawahnya. Menahan bendungan air matanya.

 

“Hyung jahat!!!” Ryeowook bangkit dan pergi meninggalkan Jongwoon. Langkah kaki kecilnya terlalu cepat dan menghilang di ujung jalan. Jongwoon tak tinggal diam. Ia mengejar adik kecilnya.

 

 

 

 

 

 

Kini tubuh Ryeowook lemah terkulai di atas ranjang berwarna biru. Tepatnya di sebuah ruangan di Rumah Sakit. Ryeowook tak sadarkan diri karena terlalu banyak menghirup kepulan asap yang mewarnai jalanan kota. Ryeowook memang tak sekuat Jongwoon. Ia mudah sekali sakit. Jongwoon tahu itu. Maka dari itu ia sudah melarang Ryeowook ikut dengannya. Tapi.. ya sudahlah itu sudah terjadi.

 

Jongwoon menangis dalam diam. Penyesalan benar benar memenuhi hatinya. Andai saja ia tak membentah adiknya itu. Pasti ia tak akan lari dan menjadi seperti ini.

 

“Wookie, mianhe~ Hyung bodoh” rutuk Jongwoon sambil menjitak kepalanya sendiri. Namun, tiba-tiba tangan kecil Ryeowook menggenggam lemah tangan Jongwoon. Membuatnya berhenti menghakimi dirinya sendiri. “Kau sudah sadar?” Jongwoon antusias.

 

“Ne~” lirih Ryeowook lemas.

 

“Maafkan Hyung..” ujar Jongwoon penuh penyesalan.

 

“Gwaenchana. Maafkan Ryeowook ya, Hyung? Ryeowook nakal” tanggap Ryeowook.

 

“Jangan diulangi ya?” Jongwoon berkata lembut sembari memeluk tubuh ringkih Ryeowook.

 

 

 

 

 

 

Seperti biasa, matahari selalu berdiri dengan gagahnya di tengah tengah langit. Memamerkan sinarnya yang menyinari seluruh dunia. Terlalu bersinar hingga penghuni bumi yang terkena sinar teriknya merasa kepanasan.

 

Itu bukan sebuah alasan bagi Jongwoon untuk tak mengais rejeki. Ia tetap bergelut dengan kepulan asap dan sinar menantang dari sang surya. Mengetuk jendela mobil dan mulai menjual suara merdunya.

 

Dirasa uang yang ia peroleh cukup, Jongwoon pun memutuskan untuk pulang. Pikirannya melayang pada adiknya yang terbaring lemah. Bagaimana ia membayar tagihan rumah sakit? Sedangkan untuk makan saja sudah sangat sulit.

 

Tiba-tiba langkah Jongwoon terhenti di depan sebuah tempah pembuangan sampah. Sebuah boneka jerapah persis seperti yang Ryeowook inginkan tengah tergeletak bersama benda buangan lain. Tampak sedikit lusuh, tapi ia pikir itu bisa diatasi.

 

 

 

 

 

 

Langkah kecilnya berlari riang. Senyum bahagia sudah terukir manis di wajah Jongwoon. Membayangkan ekspresi sang adik saat melihat apa yang ia bawa hari ini. Bahkan ia memamerkan deretan gigi putihnya saat kakinya mendarat di depan pintu ruangan dimana Ryeowook dirawat. Dibukanya pintu berwarna putih itu dengan hati yang berdegup bahagia.

 

Namun wajah bahagia itu berubah datar saat pintu itu terbuka. Sosok kecil yang tadi pagi masih tertidur di ranjang itu kini tak ada di tempatnya. Ya, ruangan itu kosong.

 

“Wookie? Eodiga?” tanyanya dan berharap ada yang menjawab. Tapi sepertinya itu hanya harapan. Karena tak ada seorang pun di ruangan itu.

 

Dengan inisiatifnya, Jongwoon berlari kencang menuju meja receptionist sembari terus mencengkram erat boneka impian sang adik. Sesampainya di sana, ia bertanya pada suster yang sedang berjaga.

 

“Noona, apa kau tahu dimana pasien bernama Kim Ryeowook di kamar 186 berada?” Tanya Jongwoon cemas.

 

“Ah, dia baru saja dibawa keruang ICU, keadaannya kritis.” Tutur sang suster yang sukses menusuk jantung Jongwoon dengan kata kata ‘kritis’.

 

Tanpa pikir panjang, Jongwoon kembali berlari. Mencari ruang ICU dimana bocah kecil yang ia sayangi berada. Air matanya jatuh bertubi-tubi. Jongwoon yang tadi riang sekejap menjadi Jongwoon yang penuh air mata.

 

 

 

 

 

“Wookie!! Wookie!! Bangunlah!! Bangun!! Ini Hyung!!!” Jongwoon berteriak-teriak di pintu ruang ICU. Namun seorang suster mencegahnya masuk. Membuat derai air matanya semakin deras mengalir.

 

Hingga akhirnya seseorang lelaki paruh baya berseragam putih yang diketahui sebagai dokter pun keluar dari ruang ICU. Ia menatap Jongwoon penuh arti.

 

“Biarkan dia masuk” ujarnya pada suster yang sedari tadi menjaga Jongwoon.

 

 

 

 

 

 

Jongwoon memasuki ruang ICU, matanya menangkap pemandangan dimana adiknya dibantu oleh alat alat kedokteran yang tak ia ketahui pasti apa kegunaannya. Wajah adik kecilnya amat lesu dan pucat. Ia menghampiri adik kecilnya dan memeluknya erat. Tangisannya kembali keluar dan semakin deras.

 

“Wookie~ Hyung bawa ini~” ujar Jongwoon sembari memberikan boneka jerapah yang sedari tadi menemani Jongwoon mencari Ryeowook.

 

“Go..ma..wo..” ujar Ryeowook nyaris tak terdengar. Senyum manis khas terukir di bibir pucatnya. Dipeluknya boneka impiannya itu. Air mata terjun dari mata Ryeowook. Dengan cekatan, Jongwoon menghapusnya.

 

“Mengapa kau menangis? Kau tak suka? Maaf itu kotor” Jongwoon mengelus kepala adiknya lembut.

 

“Ani… aku suka.. Hyung.. Ryeowook lelah.. Ryeowook ingin tidur..” lirih Ryeowook dengan air mata.

 

“Ti-Tidurlah~ Tidurlah~ Hyung tetap disini~ Hyung tetap menemani Ryeowook” Jongwoon semakin sesak. Ia mengelus lembut rambut Ryeowook. Menyanyikannya lagu pengantar tidur yang selalu ia dendangkan untuk Ryeowook.

 

“Aku.. mencintaimu.. Hyung.. Maaf.. Wookie.. menyusahkanmu.. Berbahagialah..” Ryeowook mulai memejamkan mata. Bibir pucatnya bergetar tak kuat. Ia berusaha mengulum senyum manis untuk sang kakak.

 

“Piiiiiiipppppppp” suara mesin penditeksi detak jantung seakan memberi kepastian bahwa Ryeowook sudah tertidur lelap. Lelap untuk selamanya. Para dokter yang sudah pasrah pun menghampiri  Jongwoon yang semakin menjerit.

 

 

 

 

 

Selamat tinggal, Hyung~ Sampai bertemu di surga. Maafkan aku yang telah menyusahkanmu. Bahkan saat kau tengah bersusah payah mencari makan, kau masih berusaha memberikan boneka ini padaku. Kau adalah kakak yang terhebat yang pernah ada. Hyung, aku percaya bahwa Tuhan akan membalas kebaikanmu. Hyung, lanjutkan hidupmu dengan lebih baik. Aku mencintaimu.

 

 

END

 

 

Huaaaaa author banjir sendiri bikinnya ;;;;;;;;;;;; huaaaaaaa author ga rela Ryeowook meninggal *perasaan yang bikin lu, thor* -_- oh ok sip abaikan author babo ini. Author lagi kesemsem sama Yewook couple hehehe. RCL deh ya? Yang RCL author kasih jerapah khayalan (?)

26 thoughts on “FF YeWook //GIRAFFE & RYEOWOOK// Brothership

  1. huweeeeeTTTTT,,,
    bnjir,,,,bnjirr,,,,
    kkkkk
    annyeong author ssi,,
    mie2 imnida,
    q bru nemu wpmu,,,,
    iseng nxri epep yewook mlah dpt epep yg mnguras airmta keg gni,,,,
    tp bgus kog,,,,
    ok dch,,,,
    pai….pai….

  2. Huaaa…
    sukses bikin gua nangis T.T
    Daebak !! Ryeowook n yesung oppa ngenes bgt sih thor.. Sampek2 rumah aja atapx pakek daun*plakk xD
    keep writing thor😀

  3. hueeeee…….author tanggung jawab…ini rumah udah banjir…tisuku hbis,,,,,dimarahin mami lgi !! ganti rugi !!!!!! *teriak pake toa

  4. Nangis sumpah😥 Banjiir tangisan T,T kasihan bgt:( udh susah dpt cobaan berat pula:( Sabar ne yesung & ryewook oppa:’)

  5. Hweeeeee *nagis bombay* .. sumpah thor nangis bener nih aku .. apa lgi di tambah lagunya yg cocok sama alur ffnya Daebakk dah thor .. (y) (y)

  6. Hiks..hiks… T.T
    waktu baca bag.ryeowook pengen tidur,,aku udah ngomong ama yesung bwt jgn biarin wookie tidur…
    Tuh kan gak nurut,,wookienya jdi tdur lelap…. T.T
    (mian gaje)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s